Masa Depan Industri Kreatif: Bertahan dalam Ketidakpastian

Written & Edited By
Fazrah Heryanda

Photo Source
Revolt Industry

Ada satu kutipan dari Albert Einstein yang cocok untuk menggambarkan kondisi dunia kini, yaitu ‘satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian’. Sejak dinyatakan sebagai pandemi, corona virus atau dikenal dengan COVID-19 masih belum menemukan titik terang tentang bagaimana dan kapan virus ini berakhir serta apa yang sebenarnya akan terjadi di masa depan. Semua orang dari berbagai lini dan industri ‘dipaksa’ untuk menjalani kehidupan baru yang mengubah semua hal menjadi serba virtual. Semuanya dibatasi untuk berpergian dan dihimbau untuk berdiam diri di rumah. Sekian banyak kebiasaan yang berubah ini secara langsung juga berdampak pada industri kreatif, yang mana pelaku dan pekerja kreatif pada praktiknya begitu mengandalkan penyelenggaraan bazaar, festival, wedding, maupun travel fair untuk operasional usaha mereka. Lantas, pertanyaan baru pun muncul, akankah ini akan pulih setelah corona virus dinyatakan berakhir dan rencana the new normal diimplementasikan oleh Pemerintah? Bagaimana dengan masa depan industri kreatif? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami menghadirkan seri artikel ‘Masa Depan Industri Kreatif’ dengan membagikan pandangan dari Gary Aditya Tanojohardjo, Co-Founder Revolt Industry, di bagian pertama seri ini.

Berawal dari kecintaan terhadap local brand, Gary Aditya Tanojohardjo-akrab disapa Gary tertarik untuk menciptakan brand-nya sendiri. Youtube adalah teman setianya dalam belajar mengenai cara menjahit kulit yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Revolt Industry. Kini, Revolt Industry dikenal sebagai salah satu local brand asal Surabaya yang telah berhasil memasarkan produknya di Surabaya, Jakarta, Bali, hingga mancanegara seperti Jepang, Amerika dan Rusia. Namun, pandemi yang terjadi pada tahun 2020 ini memberi kejutan dan tantangan bagi bisnisnya, karena penurunan omzet yang lumayan tajam mengingat banyaknya pembatalan acara yang berdampak pada produksi Revolt Industry. “Cashflow kami berantakan. Padahal, kami sudah membeli material karena memperkirakan bahwa stok produksi akan ramai di bulan April dan Mei, saat Ramadan dan Lebaran” tutur Gary.

Seperti banyak usaha lain yang harus cepat menyesuaikan terhadap perubahan, Gary pun memutuskan untuk mengikuti anjuran #WorkFromHome demi menurunkan kurva penyebaran virus sekaligus menekan fixed cost produksi. Meskipun sempat terpikirkan merumahkan sebagian karyawan, namun Gary selalu menemukan dead-end ketika sudah dalam tahap pengambilan keputusan siapa saja yang harus dilepas dari tim. Karenanya, Gary bersama tim Revolt mencoba untuk melakukan pendekatan kepada para loyal customer dengan mencoba transparan mengenai kondisi bisnisnya. “Kami coba informasikan ke customer kalau kami memang sedang mengalami masa sulit apalagi Revolt Industry adalah bisnis home industry. Kami mencoba untuk memberikan diskon hingga 40%, sebuah strategi di mana Revolt Industry belum pernah melakukan ini sebelumnya. Dan ternyata animonya luar biasa. Promo ini benar-benar menyelamatkan Revolt Industry setidaknya selama dua bulan ke depan” ungkapnya. Promo 40% untuk semua produk ternyata menjadi jalan terbaik yang bisa diambil bagi Revolt Industry untuk bertahan. Adanya promo ini juga diikuti dengan edukasi agar customer bisa mengerti bahwa membeli produk local brand bukan karena murah belaka, tapi karena ingin membantu mendukung bisnis terus berjalan terutama bagi pemiliki usaha kreatif di Surabaya.

Nah, dari situ, saya sadar bahwa pebisnis di industri kreatif harus fokus terhadap bagaimana brand-nya bisa memiliki meaning yang kuat.

Setelah berhasil mengatasi masalah internal ini bukan berarti Gary berpuas diri. Melihat ada banyak teman, komunitas, maupun kelompok yang benar-benar merasakan dampak dari pandemi, Gary dan tim Revolt Industry pun mulai berpikir langkah apa yang bisa dilakukan untuk berkontribusi. “Sebenarnya promo 40% untuk produk Revolt Industry memang berangkat dari kegelisahan untuk menyelamatkan perusahaan. Nah, karena kami sudah bisa survive beberapa bulan ke depan, kami berpikir ini waktunya untuk berbagi ke kawan-kawan yang lain juga. Akhirnya, saya menghubungi seorang teman, mbak Eva dari Garda Pangan untuk berkolaborasi. Pada bulan April, kita lelang satu dompet Revolt Industry dan hasilnya kami donasikan 100% untuk Garda Pangan yang akan membagikan makanan bagi kelompok terdampak. Tidak hanya itu, 10% omzet dari Revolt Industry itu dan kita juga donasikan lagi untuk Garda Pangan. Selain Garda Pangan, saya dan tim Revolt juga berkolaborasi dengan movement Kita Bisa Atasi yang gerakannya banyak menggandeng teman-teman kreatif dalam membantu usaha UMKM dan kelompok lain yang kurang beruntung” tutur Gary.

Sembari tetap mengupayakan yang terbaik untuk memperbanyak aksi positif lewat langkah kolaboratif, dalam kesehariannya, Gary juga belajar banyak hal, termasuk bagaimana ia menyadari bahwa apa yang selama ini dikerjakan sekarang adalah bukan bisnis yang mudah. “Industri kreatif memang sedang struggling. Kondisinya saat ini, semua diminta untuk berdiam diri di rumah sehingga ada banyak customer behaviour yang berubah termasuk memikirkan seberapa penting membeli barang-barang tersier saat tidak ada tempat atau acara yang dituju. Mungkin lebih dari 60-70% pengeluaran banyak dihabiskan berkat marketing yang mengajak orang untuk beli ini itu meskipun itu tidak perlu. Nah, dari situ, saya sadar bahwa pebisnis di industri kreatif harus fokus terhadap bagaimana brand-nya bisa memiliki meaning yang kuat. Kalau sekadar jualan saja, tidak menutup kemungkinan akan ada banyak orang yang kemudian berpikiran seperti saya. Harus ada emotional approach yang baik kepada customer”, ungkapnya.

Mengenai meaning ini, Gary menekankan bahwa dalam berbisnis penting untuk memikirkan seberapa berdampak brand kita terhadap orang lain. Ungkapan langkah sekecil apa pun itu berarti menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh Revolt Industry dan diceritakan lewat berbagai koleksi produknya. “Meaning ini bisa ditransformasi dalam banyak hal-seperti halnya yang telah dilakukan bersama kawan Garda Pangan dan Kita Bisa Atasi. Bisa juga melalui karakter desain produk kami yang cukup unik. Kami ingin menyampaikan pesan bahwa menjadi berbeda tidak masalah. Saya percaya bahwa kita bisa melakukan berbagai cara melalui brand yang kita miliki untuk menggerakkan sesuatu—menjadi brand yang punya impact. Saya selalu merasa jika tidak ada keinginan untuk punya impact pada orang lain atau masyarakat, ya percuma juga berbisnis. Tidak akan pernah ada habisnya bicara soal keuntungan karena ukurannya adalah kembali pada ego masing-masing—yang mana jawabannya tidak akan pernah cukup. Itulah mengapa jika hanya bergantung pada produk, maka akan sulit. Kita tidak pernah bisa mempredikasi pandemi seperti ini tidak akan terjadi lagi”, ungkap Gary.

Alih-alih memelihara ketakutan, Gary justru mengganggap hal ini sebagai tantangan dalam membuat strategi atau gerakan yang massive untuk memberikan performa Revolt Industry yang lebih baik—dimulai dari memanfaatkan momen menjadi sebuah opportunity. Bagaimanapun, Gary berprinsip bahwa orang-orang yang optimis dalam menjalankan hidupnya akan bisa sukses dalam menjalankan bisnisnya. Secara lebih spesifik, Gary menjelaskan bahwa di Revolt Industy, ia sempat menginisasi sistem borongan pulang di mana para crafter mendapatkan bonus tambahan di luar jam kerja berupa submission proses pengerjaan yang mereka bisa bawa pulang ke rumah dan disebarkan di titik-titik produksi kecil di sekitar mereka, yakni dengan syarat dapat membagi pekerjaan ini juga kepada orang lain, baik itu keluarga, tetangga, atau teman-teman mereka. Sistem ini mengajarkan karyawannya untuk menjadi pemimpin dan belajar mengenai cara manage bisnis. Bagi Gary, meskipun saat ini sistem borongan terpaksa harus dikerjakan di kantor, namun menjadi langkah awal yang bagus untuk menuju bisnis yang sustain di mana semua elemennya terpenuhi, termasuk pemberdayaan terhadap para karyawan.

Gary Aditya
Gary Aditya

Jangan terlena dengan strategi untuk bertahan namun justru kelabakan saat semua orang sudah menyiapkan strategi di masa depan.

Adapun mengenai bagaimana nasib industri kreatif ke depan, Gary memang tidak punya jawaban pasti. Namun, Gary berbagai perspektif yang menarik dan komprehensif bagi teman-teman kreatif atau UMKM mengenai cara dalam menghadapi situasi yang tidak menentu ini. “Pertama, kita harus mengetahui dari segi kemampuan usaha, berapa lama kita bisa bertahan. Ada satu brand di Instagram memiliki campaign “Don’t buy from us”. Artinya, mereka bilang lebih baik uang yang dibuat untuk membeli produk mereka lebih baik dibagikan untuk orang orang lain. Ya, tidak salah. Tetapi, ketika kita berhadapan dengan puluhan orang yang bergantung hidup di tempat kita, jika caranya memang harus mengambil strategi komunikasi dan marketing dengan pemberian diskon, ya tidak masalah. Tidak perlu gengsi. Kedua, lihat tipe bisnis yang sedang kita jalani, apakah memungkinkan untuk pivot sembari memastikan dan memelihara dengan baik aset bisnis. Contoh, di workshop Revolt Industry, kami punya mesin jahit namun karena order yang masuk terbatas, kami pergunakan mesinnya untuk produksi masker kain yang bisa dijual oleh para karyawan Revolt Industry dan keuntungannya bisa kembali pada mereka. Jangan melupakan aset terpenting, yakni karyawan kita. Coba untuk melakukan edukasi mengenai pentingnya social distancing. Jangan sampai pulang kerja karena kita tidak mau repot edukasi, masih banyak pekerja yang ‘nongkrong’ di warung kopi. Ketiga, kita harus bersiap untuk post pandemic, terutama mengenai arah bisnis yang akan dijalankan. Jangan terlena dengan strategi untuk bertahan namun justru kelabakan saat semua orang sudah menyiapkan strategi di masa depan. Masih bermain di area yang sama lalu tidak memiliki persiapan yang matang akan berpotensi pada kehilangan momentum. Sedangkan, bisnis sangat bergantung pada momentum.”

OTHER TOPICS