Masa Depan Industri Kreatif: Tetap Ada Asa Dibalik Perubahan

Written & Edited By
Fazrah Heryanda

Photo Source
Yoris Sebastian

Ada satu kutipan dari Albert Einstein yang cocok untuk menggambarkan kondisi dunia kini, yaitu ‘satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian’. Sejak dinyatakan sebagai pandemi, corona virus atau dikenal dengan COVID-19 masih belum menemukan titik terang tentang bagaimana dan kapan virus ini berakhir serta apa yang sebenarnya akan terjadi di masa depan. Semua orang dari berbagai lini dan industri ‘dipaksa’ untuk menjalani kehidupan baru yang mengubah semua hal menjadi serba virtual. Semuanya dibatasi untuk berpergian dan dihimbau untuk berdiam diri di rumah. Sekian banyak kebiasaan yang berubah ini secara langsung juga berdampak pada industri kreatif, yang mana pelaku dan pekerja kreatif pada praktiknya begitu mengandalkan penyelenggaraan bazaar, festival, wedding, maupun travel fair untuk operasional usaha mereka. Lantas, pertanyaan baru pun muncul, akankah ini akan pulih setelah corona virus dinyatakan berakhir dan rencana the new normal diimplementasikan oleh Pemerintah? Bagaimana dengan masa depan industri kreatif? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami menghadirkan seri artikel ‘Masa Depan Industri Kreatif’ dengan membagikan pandangan dari Yoris Sebastian, founder OMG Consulting dan Co-Founder Inspigo, di bagian kedua seri ini.

Memimpin tim OMG Consulting serta Inspigo sekaligus mengisi waktu menjadi speaker untuk talk show, seminar, training, maupun workshop menulis dan adalah bagian dari aktivitas dan pekerjaan seorang Yoris Sebastian. Namun, sejak bulan Maret 2020, himbauan #WorkFromHome dan menjaga physical distancing yang dianjurkan Pemerintah untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 membuat Yoris Sebastian mengubah kebiasaan maupun cara kerjanya di rumah. “Bekerja dan beraktivitas di rumah justru membuat saya jadi lebih kreatif. Saya jadi punya banyak waktu untuk bereksperimen, misalnya, mulai menggunakan baju yang berwarna-warni, padahal biasanya kan Yoris identik dengan baju hitam berlogo Perusahaan”, ungkapnya membuka obrolan.

Yoris Sebastian
Yoris Sebastian

Saya menyadari ini adalah kondisi yang berat bagi semua pihak, terutama bagi yang bekerja di industri kreatif. Namun, saya percaya bahwa ini saat yang tepat bagi kita untuk fokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan sebaliknya, meratapi apa yang tidak bisa diwujudkan.

Memusatkan energinya agar bisa lebih positif, Yoris Sebastian tidak menampik bahwa pandemi ini juga berdampak pada beberapa project yang terpaksa harus ditunda atau dibatalkan.” Kalau sekarang bisnis saya masih aman, meskipun belum menyamai revenue biasanya. Ada project seperti web series yang tadinya dijadwalkan untuk Ramadan, ya otomatis batal meskipun kami sudah mengantongi perizinan syuting. Menanggapi kondisi semacam itu, kami udah legowo, namun, kami beruntung ada banyak seminar dan workshop yang beberapa dapat di-modified full online.” Meskipun keadaan memang sedikit lebih menguntungkan baginya, namun Yoris Sebastian kerap mendapatkan cerita dari teman-teman kreatif yang mengeluhkan bagaimana performa bisnis yang harus mengalami penurunan. “Saya menyadari ini adalah kondisi yang berat bagi semua pihak, terutama bagi yang bekerja di industri kreatif. Namun, saya percaya bahwa ini saat yang tepat bagi kita untuk fokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan sebaliknya, meratapi apa yang tidak bisa diwujudkan. Sekali lagi, memang tidak mudah untuk memproduksi sesuatu tanpa tahu ini akan bisa menghasilkan atau tidak, tapi kalaupun tidak menghasilkan profit, ya lakukan saja dulu supaya menjaga energi kita tetap produktif. Seperti misalnya, Inspigo yang telah menjalankan beberapa kelas online ‘Steal the skill’. Kelas ini biasanya diadakan secara offline dan karena sekarang semua sudah mulai adjusting ke virtual, saya melihat ada banyak efisiensi.”

Mengenai efisiensi, Yoris Sebastian menilai bahwa shifting secara virtual ini bukan hanya akan menjadi tren sementara saat pandemi. “Untuk offline, biaya yang ditarik dan dibebankan ke peserta memang lebih mahal karena kami harus bayar venue atau katering. Namun, dengan going online, kami bisa menjualnya menjadi lebih murah. Apalagi, selama ini saat membuat workshop kan berpusat di Jakarta. Nah, dengan kelas Steal The Skill ini menjadi peluang untuk teman-teman dari daerah lain yang ingin belajar, bahkan Perusahaan pun bisa mendaftarkan karyawannya. Jadi, efisiensi bukan hanya di biaya saja, namun juga ke akses.”

Saat ditanya apa yang menjadi motivasinya dalam membangun Inspigo, Yoris Sebastian mengaku bahwa ia memiliki spirit untuk mengedukasi masyarakat Indonesia agar willing to pay for knowledge, to pay for good content’. “There is nothing wrong with free learning, tapi tetap perhatikan sumbernya siapa dan platform-nya apa” ujar penulis Creative Junkies ini. Peningkatan kualitas konten ini dilihat oleh Yoris Sebastian sebagai indikasi yang baik bahwa banyak orang berlomba-lomba untuk memproduksi konten berkualitas. “Senang sekali banyak pihak yang menjual konten berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Apalagi melihat bagaimana respon masyarakat terhadap kelas Inspigo ini karena mereka bisa merasa mendapatkan ilmu yang komprehensif dan aplikatif. Ini juga sejalan dengan visi Inspigo, yakni membagikan inspirasi serta informasi kepada masyarakat seluas-luasnya.” Bagi Yoris, Inspigo adalah best practice dalam menjalankan perusahaan dengan banyak karyawan. Seiring meningkatnya demand masyarakat terhadap konten digital yang berkualitas, Yoris Sebastian juga mengimbangi perkembangan Inspigo yang signifikan melalui konten podcast-nya yang kian bervariasi. Ia bersyukur bahwa bisnis yang dijalankannya tidak harus mengikuti prinsip ‘bakar duit’ dan bisa menghasilkan profit dari apa yang diproduksi.

Beralih dari dunia digital yang memang berjaya saat pandemi termasuk perkembangan Inspigo, Yoris Sebastian berbagi perspektif bahwa the new normal ini membuatnya mengevaluasi beberapa hal, termasuk mengenai efektivitas kantor dan kebiasaan kerja. “To be frank, sebagai pebisnis, sewa tempat untuk kita ngantor, misalnya bisa dipertimbangkan apakah benar-benar efektif. Apalagi, melihat kondisi Jakarta yang macet, dan ada karyawan OMG Consulting yang memang harus memakan banyak waktu di jalan sehingga akhirnya ngantor menjadi lebih banyak sisi negatif daripada sisi positifnya. Kemudian, meeting yang biasanya tidak efisien juga bisa disiasati dengan Zoom. Jadi, ke depannya memungkinkan sekali kalau meeting tidak harus face to face, tapi beberapa progress bisa di-update secara virtual. Ini memang menjadi tantangan buat pemilik properti, namun akan membuka peluang baru jika telah menyiapkan strategi sejak saat aktivitas harus benar-benar berhenti.”

Lebih lanjut, di tengah kondisi yang tidak menentu ini,sebagai pebisnis yang telah melewati krisis 98, Yoris Sebastian memahami bahwa tantangan dan krisis akan selalu ada. Tidak ada yang pasti tentang dampaknya terhadap industri kreatif. Kondisi ini adalah masa di mana semuanya berubah dengan sangat cepat dan dinamis. Baginya, masa-masa seperti ini adalah kesempatan buat kita dipaksa belajar kreatif dan berbuat baik. “Pada saat krisis 98, misalnya, daripada memecat orang, saya memilih untuk tidak menggaji diri saya sendiri. Saat seperti ini, karyawan jadi lebih memiliki loyalitas dan mau diajak bersama untuk survive. Nah, baru setelah itu, kita bisa mulai mengestimasi kira-kira pintu baru apa saja yang bisa kita eksplorasi. Saya percaya kita bisa menghadapi semua krisis ini” tutur Yoris Sebastian. Tidak lupa, ia juga memberikan saran yang kadang terlupakan oleh para pebisnis, yakni tuntutan untuk bertindak cepat tidak diikuti dengan sumber daya yang dimilikinya. “Ada suatu brand, dia bikin narasi di Whatsapp yang sangat menyentuh supaya brand mereka tidak sampai PHK karyawan, sehingga menjadi viral dan membuat loyal customer-nya terenyuh dan mulai order di tempat tersebut. Namun, justru yang terjadi, delivery order membludak. Kita bisa pesan makan siang dan makan malam dan harus antri 3 jam. Nah, itu contoh bertindak cepat tanpa pertimbangan yang matang. Mengapa? Karena tentu saja, 1 -2 hari sales tercapai tapi dampak jangka panjang akhirnya orang malas untuk repeat order. Akhirnya, tujuan awal supaya bisa tetap membayar karyawan tidak tercapai karena message-nya dieksekusi dengan terburu-buru tanpa menyiapkan infrastrukturnya.”

Belajar dari pengalaman dan observasi terhadap perkembangan bisnis di tengah pandemi, Yoris Sebastian kembali mengingatkan bahwa di tengah transisi menuju new normal, fase eksplorasi tetap penting. Bagaimanapun, Yoris Sebastian berpegang teguh pada prinsipnya bahwa kaya bukan tujuan utama, namun bahagia. Seperti prinsip Blessing in Disguise, mindset kita dalam menghadapi tantangan—bertahan dalam keterpurukan atau bergerak maju di masa depan.

OTHER TOPICS