Masa Depan Industri Kreatif: Bangkit untuk Pemulihan Ekonomi Kreatif

Written & Edited By
Fazrah Heryanda

Photo Cover
Photo by Markus Spiske on Unsplash

Ada satu kutipan dari Albert Einstein yang cocok untuk menggambarkan kondisi dunia kini, yaitu ‘satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian’. Sejak dinyatakan sebagai pandemi, corona virus atau dikenal dengan COVID-19 masih belum menemukan titik terang tentang bagaimana dan kapan virus ini berakhir serta apa yang sebenarnya akan terjadi di masa depan. Semua orang dari berbagai lini dan industri ‘dipaksa’ untuk menjalani kehidupan baru yang mengubah semua hal menjadi serba virtual. Semuanya dibatasi untuk berpergian dan dihimbau untuk berdiam diri di rumah. Sekian banyak kebiasaan yang berubah ini secara langsung juga berdampak pada industri kreatif, yang mana pelaku dan pekerja kreatif pada praktiknya begitu mengandalkan penyelenggaraan bazaar, festival, wedding, maupun travel fair untuk operasional usaha mereka. Lantas, pertanyaan baru pun muncul, akankah ini akan pulih setelah corona virus dinyatakan berakhir dan rencana the new normal diimplementasikan oleh Pemerintah? Bagaimana dengan masa depan industri kreatif? Untuk menjawab pertanyaan ini, kami menghadirkan seri artikel ‘Masa Depan Industri Kreatif’ dengan membagikan pandangan dari Tirta Prayudha, Founder Big Alpha, di bagian ketiga sekaligus bagian akhir dari seri ini.

Ekonomi vs kesehatan adalah salah satu topik yang kerap dibahas dalam pemberitaan media saat perdebatan mengenai pengambilan kebijakan untuk mengatasi permasalahan COVID-19 di Indonesia yang kian tidak terbendung. Sebuah kutipan dari Presiden Ghana, Nana Akufo-Addo bahwa ekonomi bisa tumbuh lagi, namun nyawa tidak bisa dibangkitkan lagi menjadi narasi hangat yang membuat banyak orang bertanya-tanya, termasuk mengenai masa depan ekonomi UMKM maupun industri kreatif. Di satu sisi, fenomena ini kemudian membuat sebagian masyarakat mulai aktif mencari tahu mengenai perkembangan ekonomi. Hal ini kemudian ditangkap sebagai salah satu indikator bahwa pengetahuan masyarakat terhadap isu ini masih relatif rendah. Tirta Prayudha mengungkapkan bahwa kehadiran Big Alpha adalah untuk mencapai tujuannya dalam memperkecil gap kesenjangan literasi keuangan di Indonesia. “Tantangan utama Big Alpha adalah menyederhanakan penyampaian literasi keuangan. Kita semua mungkin pernah mendengar banyak istilah keuangan yang rumit, ambigu, atau bahkan informasi yang bisa menyesatkan.”

Photo Source: Big Alpha

Bank Dunia telah memperkirakan bahwa pandemi ini akan bertahan hingga akhir tahun 2021 dan telah berdampak besar pada perekonomian dengan kemungkinan besar resesi global. Kita dihadapkan pada situasi yang suram.

Melangkah maju untuk mencapai visinya, Big Alpha juga tidak ketinggalan memberikan banyak insight menarik mengenai kondisi ekonomi di tengah pandemi di mana sebagian besar industri, kini menghadapi pekerjaan besar dan kehilangan pendapatan. Sumber dari Kompas per Desember 2019 mengatakan bahwa UMKM menyerap hingga 89,2% dari total tenaga kerja dan menyumbang 60,34% dari total PDB Nasional. Namun, pandemi ini menjadi pukulan telak bagi UMKM dan industri kreatif. “Saat ini, kita sedang menghadapi krisis yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Setelah kita berhasil selamat dari krisis kesehatan, maka baru kita dapat berbicara tentang bisnis. Beberapa akan bertahan dan yang lain tidak akan pernah pulih. Mungkin diperlukan setidaknya 12 hingga 18 bulan untuk mengembangkan vaksin atau mencapai herd-immunity terhadap pandemi. Bank Dunia telah memperkirakan bahwa pandemi ini akan bertahan hingga akhir tahun 2021 dan telah berdampak besar pada perekonomian dengan kemungkinan besar resesi global. Kita dihadapkan pada situasi yang suram”, ungkap Tirta. Mengenai industri kreatif, Tirta Prayudha berpendapat bahwa beberapa sub-sektor, seperti pariwisata dan event management mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk kembali beroperasi dengan normal, sementara sektor lain didorong untuk beradaptasi dan beroperasi dengan cara-cara baru guna mengikuti perubahan perilaku konsumen selama pandemi. Seperti misalnya, mengingat semakin banyaknya orang yang berada di dalam ruangan selama pandemi, banyak advertiser mengubah strategi media mereka dan mengalihkan expense ke digital daripada media konvensional.

Mengenai cara bertahan dari dampak pandemi ini, Tirta Prayudha menekankan pada signifikansi strategi bisnis. “First and foremost, fokus pada tujuan bisnis untuk bisa selamat dari krisis ini. Menetapkan strategi jangka pendek dan jangka panjang menjadi kian penting. Apakah produk atau layanan kita masih relevan di pasar saat ini? Bagaimana cara mengidentifikasi produk atau layanan mana yang membutuhkan perubahan atau penyesuaian? Seberapa besar perubahan atau penyesuaian yang harus dilakukan? Pertanyaan seperti ini yang bisa menjadi acuan dalam menciptakan skenario dan ide-ide bisnis yang bisa diimplementasikan.”

Tirta Prayudha

Go get into survival mode, be agile, adapt to new consumers behavior, and go digital.

Meskipun kini Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah dilonggarkan dan mendorong the new normal, salah satu alasannya tidak lepas dari menjadikan langkah ini sebagai upaya untuk memulihkan perekonomian yang lesu pada kuartal I/2020. “Meskipun tidak banyak yang bisa dilakukan Pemerintah untuk industri UMKM dan kreatif, tetapi tetap perlu Pemerintah untuk turun tangan. Memberikan insentif pajak untuk industri kreatif akan sangat membantu”, ungkap Tirta. Faktanya, untuk UMKM, Pemerintah telah memberikan kebebasan pajak untuk pelaku UMKM beromzet di bawah Rp 4,8 miliar per tahun yang berlaku selama enam bulan, mulai April sampai September 2020.

Lebih lanjut, kebiasaan dalam aspek finansial bisa dilakukan, seperti persiapan dana darurat, ekspansi dan investasi, termasuk tidak hanya mengandalkan satu bisnis. Dalam situsnya, Big Alpha juga memfokuskan pada fakta bahwa pandemi berdampak signifikan terhadap pasar saham di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun lebih dari 30% yang tentu saja menjadikan kita untuk perlu memikirkan ulang mengenai strategi investasi dan justru mengganggu likuiditas pribadi. Pada akhirnya, menurut Tirta Prayudha, yang perlu diingat bagi industri kreatif adalah: Go get into survival mode, be agile, adapt to new consumers behavior, and go digital.

OTHER TOPICS