Mengkaji Tren Donasi Di Tengah Pandemi

Written By
Annisa Puspa Andira

Edited By
Fazrah Heryanda

Photo Cover
Bagirata

Saat dibanjiri dan dikelilingi oleh berita yang tak kunjung henti mengenai pandemi COVID-19, tak dapat dipungkiri muncul rasa frustasi ketika menyaksikan bagaimana pandemi ini secara perlahan dapat mengikis rasa kemanusiaan. Terlebih, istilah covidiot-merujuk pada individu yang ignorant terhadap penyebaran corona virus kian banyak jumlahnya. Namun, di sisi lain, terdapat satu fenomena baru yang jika ditelusuri lebih seksama dapat menguatkan optimisme dan membangkitkan semangat untuk berbagi. Terbukti solidaritas dan rasa kebersamaan masih sangat kuat kehadirannya yang ditandai dengan kemunculan berbagai jenis pergerakan dan komunitas untuk membantu siapa pun yang terkena dampak dari pandemi. Beberapa gerakan seperti Kita Bisa Atasi dan Bagirata telah menunjukkan bahwa kemanusiaan belum mati, bahkan di tengah krisis ekonomi. Simak wawancara dengan Ananta Kurnia Putra dari Kita Bisa Atasi dan tim Bagirata mengenai perjalanan dan kontribusi mereka dalam menggalang donasi.

Platform yang kalian dirikan sangatlah inspiratif, khususnya di masa-masa tidak menentu seperti saat ini. Lalu, bagaimana cerita dibalik tercetusnya platform yang kalian bangun ini?

Photo Source: Bagirata

Bagirata:

Ketika masyarakat mulai dihimbau untuk work from home dan stay at home pertengahan Maret lalu, kami menyadari bahwa tidak semua pihak beruntung memiliki job security yang sama. Tim Bagirata sendiri memiliki latar belakang pekerjaan yang berbeda-beda dan salah satu dari kami terpaksa harus mengambil unpaid leave akibat pandemi ini. Berkaca pada apa yang dialami, kami dapat melihat dengan jelas bagaimana pandemi sangat berdampak bagi sebagian besar orang. Keresahan dan pengalaman pahit yang dirasakan, termasuk orang-orang yang ada di sekeliling kami inilah yang memotivasi kami untuk mencari solusi sederhana namun mudah diaplikasikan supaya para pekerja bisa saling membantu satu sama lain di dalam maupun lintas industri, khususnya di situasi yang penuh ketidakpastian.

Kita Bisa Atasi:

Inisiasi Kita Bisa Atasi ini sebenarnya berawal dari kegiatan yang kami lakukan untuk mencegah pandemi semakin meningkat. Jadi, pada waktu dua bulan awal kasus pandemi masuk dan ramai dibicarakan, saya merasakan kekhawatiran di mana suasana tempat tinggal saya di kampung sangat berpotensi tinggi dalam penyebaran virus corona. Kita tahu sendiri bagaimana kehidupan di kampung yang guyub, di mana orang-orang akan saling tegur sapa dengan bersalaman, kumpul dan ngobrol bareng, anak-anak kecil bermain dengan bebas yang saat ini menjadi aktivitas yang harus dihindari.

Di saat itu, saya berpikir, hal sederhana apa yang bisa saya lakukan untuk mengantisipasi pandemi tersebut. Munculah sebuah ide untuk membuat alat cuci tangan portable, karena saya menyadari kurangnya fasilitas tempat cuci tangan tidak hanya di kampung saya tapi juga tempat umum lainnya. Saya pun memberikan wacana tersebut kepada orang-orang sekitar saya yang kemudian ternyata sepupu saya berminat untuk menjadi donatur. Jadi waktu itu, kami membeli 42 ember cuci tangan lalu saya meminta bantuan teman-teman dari bonek melalui Twitter untuk mendata dan menyebarkan informasi ke kampung-kampung yang membutuhkan tempat cuci tangan bisa datang ke saya. Waktu itu responnya luar biasa, ada sekitar 50 kampung yang membutuhkannya. Namun, karena persediaan terbatas, kami hanya bisa mendistribusikannya ke 35 kampung di Surabaya dan 1 pesantren di Madura.

Ketika proses distribusi tersebut, teman-teman yang mendapat donasi ember menanyakan apakah ada donasi sembako, karena akibat adanya pandemi ini banyak tetangganya yang merupakan pekerja di sektor informal mengalami kesulitan karena pendapatan harian mereka semakin menurun. Lalu, kami lemparkan wacana tersebut ke kerabat kami dan ternyata juga mendapat respon positif untuk mengadakan penggalangan dana. Dari situlah, Kita Bisa Atasi tercetus.

Tentunya di tengah pandemi seperti ini, banyak sekali orang membutuhkan bantuan, baik berupa dana maupun bantuan yang berkaitan pemenuhan kebutuhan. Lalu, apa saja program donasi atau bantuan yang disediakan? Bisakah dijelaskan bagaimana program tersebut diterapkan?

Bagirata:

Di Bagirata, kami menerapkan sistem peer-to-peer wealth distribution tool atau bisa disebut sebagai mutual aid, yakni, kami menekankan pada nilai solidaritas. Sistem yang kami terapkan bisa terbilang berbeda dari platform donasi lainnya yang pada umumnya dana atau bantuan ditampung terlebih dahulu di satu sumber tertentu lalu baru disebarluaskan. Jadi, di Bagirata, semua transaksi bersifat langsung antar individu yang mana pengirim dana atau donatur memiliki kendali penuh untuk memilih siapa yang akan dibantu, jumlah dana yang ingin didistribusikan, serta melakukan pengecekan secara langsung identitas penerima dana melalui sosial media yang terlampir. Bahkan, jika dirasa terdapat informasi yang salah atau tidak sesuai mengenai penerima dana tersebut, pengirim dana dapat melaporkannya untuk proses validasi yang lebih akurat sehingga semua transaksi sebenarnya terjadi di luar platform ini.

Lebih lanjut, pergerakan ini bisa jadi semacam hal yang dapat menginspirasi berbagai pihak, khususnya pelaku industri kreatif agar mereka dapat berperan lebih banyak di masyarakat.

Photo Source: Kita Bisa Atasi

Kita Bisa Atasi:

Di awal bulan berdirinya Kita Bisa Atasi, kami memiliki tiga paket donasi. Namun, seiring berjalannya waktu, kita mempersingkatnya menjadi dua paket. Pertama, ada Paket Sembako Sehat Masyarakat Dampak, yakni pihak yang memilih paket ini dapat mendonasikan Rp 100.000 ataupun lebih. Melalui paket ini, pihak yang mendapat donasi akan menerima hygiene kit berupa flyer sosialisasi mengenai COVID-19 yang berisi informasi mengenai bagaimana menjaga kesehatan tubuh meskipun bekerja di luar rumah, vitamin, dan masker 2 pcs. Lalu, mereka juga mendapatkan serta sembako sehat yang terdiri dari beras 3kg, mi instan 7 buah, minyak goreng 1 liter. Yang kedua, ada Paket Tenaga Kesehatan, namun untuk saat ini paket ini masih belum kita sediakan karena dari data yang kita punya, masih banyak keluarga-keluarga yang terdampak belum mendapatkan bantuan secara merata. Maka dari itu, kami sekarang masih fokus di paket sembako sehat. Kemudian, setiap donatur akan kami berikan ilustrasi dari tim ilustrator kami sebagai ucapan terima kasih atas donasi yang telah diberikan. Untuk distribusinya, saat ini kami masih berfokus di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Kemudian, adakah kualifikasi ataupun sistem seleksi yang diterapkan di platform masing-masing baik untuk pengirim ataupun penerima bantuan?

Bagirata:

Target kami adalah pekerja yang pada dasarnya telah terbiasa dengan kepastian dengan gaji bulan tetapi harus dihadapkan dengan ketidakpastian secara mendadak karena adanya pandemi ini. Di Bagirata untuk penerima dana kami menerapkan sistem verifikasi yang telah kami tentukan berdasarkan:

Photo Source: Bagirata
  • • Kelengkapan data dan informasi, di mana kami memastikan bahwa informasi pekerjaan yang diberikan serta format kode media sosial dan email seperti kode QR dan URL yang dicantumkan sudah sesuai, spesifik, dan konsisten.
  • • Kesesuaian dengan kriteria Bagirata. Ada beberapa sektor industri yang menjadi prioritas di Bagirata, yakni sektor industri hospitality, kreatif, pariwisata, seni dan budaya, service dan gig economy.
  • • Evaluasi kelayakan dari profesi dan industri terdampak. Kami melakukan scoring system untuk mengevaluasi sejauh mana profesi tersebut terdampak dengan adanya COVID-19. Hal-hal yang menjadi acuan kami seperti, nilai tukar dari skill profesi tersebut, resource dan ruang gerak untuk menjalankan profesi tersebut dan yang terakhir adalah disrupsi demand dari profesi tersebut yang menunjukkann severity level yang berbeda.

Kami juga menyarankan untuk pengirim dana dan penerima dana untuk menggunakan akun e-wallet yang telah ter-upgrade sehingga memudahkan proses transaksi dan penarikan dana dan lebih fleksibel untuk digunakan.

Kita Bisa Atasi:

Penerima bantuan atau donasi di Kita Bisa Atasi kami fokuskan untuk saat ini pada orang-orang yang terdampak, khususnya mereka yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan asupan konsumsi.

Mengenai sistem distribusi bantuan, kami memilih untuk tak melakukan pendistribusian di jalanan sebagai langkah menghindari risiko timbulnya kekacauan. Kami memilih alternatif dengan menghubungi RW dan RT dan rekan-rekan pengurus kampung setempat untuk meminta bantuan mendata warga kampungnya masing-masing yang membutuhkan donasi dan bantuan tersebut. Lalu, kami mengumpulkan data-data tersebut, mulai nama, umur, pekerjaan, alamat, dan informasi penting lainnya. Kemudian, kami melakukan distribusi door to door atau langsung ke penerima donasi tersebut dengan bantuan perangkat kampung setempat.

Photo Source: Kita Bisa Atasi

Berbesar hati dan menekan ego sangat penting apalagi pada masa-masa seperti ini.

Selain itu, kami juga fokus pada kolaborasi dengan teman-teman kreatif. Kolaborasi ini berencana untuk mengadakan pembuatan dan penjualan merchandise yang melibatkan illustrator maupun vendor lain yang hasilnya akan dibagikan pada teman-teman kreatif yang terdampak. Nantinya, merchandise ini akan dijual dalam pertunjukan musik online bersama musisi indie Surabaya bertajuk We Will Overcome. Dari kolaborasi ini, kami berharap bisa membantu menggerakkan ekonomi serta meningkatkan pemasukan teman-teman kreatif sekaligus bisa menggalang donasi dengan cara baru.

Platform ataupun gerakan bantuan donasi saat ini sepertinya menjadi suatu tren yang terus tumbuh di tengah maraknya pandemi COVID-19 ini. Lalu, bagaimana pendapat kalian masing-masing mengenai tren tersebut?

Bagirata:

Kami melihat tren ini sangatlah menarik, karena bukan hanya platform donasi yang marak, namun juga gerakan lain dalam berbagai bentuk mediasi. Pergerakan-pergerakan ini menyuarakan suara yang sangat beragam. Mulai dari dapur umum hingga kooperasi, dan mereka mulai membela populasi yang beragam juga. Seperti pergerakan di Yogyakarta yang menyalurkan donasi untuk membantu kelompok transpuan. Adanya pergerakan ini, masyarakat kita jadi terpapar dengan beragam bentuk bantuan yang tak konvensional untuk target atau audiens yang tentunya juga lebih tak biasa. Banyak masyarakat juga lebih tersentuh dan terjangkau dengan pertumbuhan pergerakan tersebut.

Lebih lanjut, pergerakan ini bisa jadi semacam hal yang dapat menginspirasi berbagai pihak, khususnya pelaku industri kreatif agar mereka dapat berperan lebih banyak di masyarakat. Karena di saat seperti ini, banyak kemungkinan dan peluang yang bisa dijajaki dengan cara cara yang kreatif.

Kita Bisa Atasi:

Menurut kami, semakin banyak individu maupun kelompok yang menciptakan program seperti ini semakin baik. Ini juga berkaitan dengan survei yang kami lakukan, yakni rata-rata per kepala yang menerima donasi hanya bisa digunakan untuk bertahan hidup selama 2-3 hari. Jadi, kami merasa bahwa gerakan-gerakan seperti ini jika jumlahnya lebih banyak tentu akan memperbesar peluang masyarakat yang terdampak untuk memenuhi kebutuhannya lebih lama lagi sehingga bisa saling melengkapi hingga pandemi ini benar-benar berakhir dan semua berjalan seperti semula. Adanya tren pergerakan donasi maupun bantuan juga memperlihatkan bagaimana solidaritas masyarakat kita sangat kuat dan ini yang juga menjadi momen di mana kita bisa melihat secara langsung bagaimana dampak dukungan dan bantuan satu sama lain memiliki kekuatan yang sangat besar dalam melakukan perubahan.

Photo Source: Kita Bisa Atasi

Melihat tren platform bantuan yang memberikan efek positif serta solusi untuk mulai pulih dari dampak yang diakibatkan pandemi ini, apa harapan yang ingin kalian sampaikan?

Bagirata:

Kami memiliki harapan khususnya di industri kreatif beserta para pelakunya untuk dapat memanfaatkan skill set-nya untuk ikut turun tangan dan berperan dalam menggerakan aksi solidaritas di kemudian hari, ketika krisis dan bencana lain menerpa sehingga peran kita sebagai orang kreatif bisa lebih besar dalam membuat dampak sosial yang positif, bukan hanya untuk kepentingan komersial semata.

Kita Bisa Atasi:

Kami memiliki kampanye baru, yakni Selalu Cuci Tangan Sebar Kebaikan. Kampanye ini tidak hanya merujuk pada aktivitas cuci tangan untuk kebersihan diri, namun juga demi kebaikan bersama. Tak hanya itu, kami berharap akan hadir banyaknya lagi kebaikan, dalam arti jika kita melihat sekitar yang membutuhkan bantuan dan kita punya kemampuan untuk membantu alangkah baiknya segera bertindak. Berbesar hati dan menekan ego sangat penting apalagi pada masa-masa seperti ini. Kami juga berharap pemerintah dapat mengambil langkah yang lebih tegas terhadap penerapakan kebijakan sehingga apa yang telah diinisiasi oleh teman-teman ini bisa berdampak optimal.

OTHER TOPICS